Bumi Manusia: Kisah cinta kaum Pribumi di zaman kolonial
Keesokan harinya, Minke yang saat itu bersekolah di Hogereburgerschool (HBS) berkhayal Ontosoroh menghampirinya ketika gurunya sedang menerangkan pelajaran, sehingga gurunya menyadarkan Minke yang diikuti dengan tertawaan dari teman sekelasnya, termasuk Suurhof. Sepulang sekolah, Minke menghampiri temannya yang berkebangsaan Prancis bernama Jean Marais yang sedang melukis bersama dengan anaknya May Marais dan bercerita tentang kehidupan pribadinya. Keesokan harinya, Annelies menceritakan kehidupan ibunya, Sanikem, yang kemudian mengganti namanya menjadi Ontosoroh. Minke terilhami dan menulis artikel di koran Surabaya dengan nama samaran Max Tollenaar. Malam harinya, Minke tiba-tiba ditangkap polisi karena tulisannya beberapa hari yang lalu. Minke akhirnya kembali ke rumah dan disambut dengan kemarahan ayahnya karena berhubungan dengan Annelies, hubungan itu dinilai ayahnya meninggalkan budaya dan tradisi Jawa pada saat itu.
Kembali ke Wonokromo, Minke mulai dihadapkan dengan perkara yang sudah lama mengganggu hatinya, yang tak lain antara jurang pemisah antara Pribumi dan Eropa, serta hubungannya dengan Annelies. Keesokan harinya, ayah Minke diangkat menjadi bupati. Beberapa hari kemudian, Minke meninggalkan ayahnya ke rumah Annelies dan merasa dibuntuti oleh Gendut Sipit di kereta api yang ia tumpangi. Suatu hari, Gendut Sipit didapati penjaga rumah Annelies sedang memata-matai rumah itu, sehingga memancing Darsam (orang kepercayaan ibunya Annelies), Minke, dan Annelies mengejarnya hingga ke rumah pelacuran. Di sana, Darsam menemukan Herman Mellema yang tewas karena keracunan.
Dari sinilah konflik yang sebenarnya mulai
dimunculkan, Minke, Annelies dan Ibunya dihadapkan dengan situasi sulit pasca
sepeninggal ayah Annelies, Robert Mellema. Dan perebutan warisan serta hak asuh
Annelies yang diketahui menurut hukum kolonial ia masih dibawah umur dan hak
asuh ibunya terhadap Annelies tidak berlaku. Hal ini menyebabkan Minke dan
ibunya Annelies berjuang dihadapan pengadilan hukum kolonial untuk memenangkan
warisan dan hak asuh terhadap Annelies.
[REVIEW]
Film ini diangkat dari novel legendaris dari Pramoedya Ananta Toer dengan judul yang sama dengan filmnya yaitu Bumi Manusia. Memiliki durasi yang cukup lama sekitar 3 jam lebih, dan dibintangi oleh Iqbal Ramadhan sebagai tokoh utamanya, Minke. Serta tokoh Annelies yang diperankan oleh Mawar Eva de Jongh.
Dari segi cerita, film ini mengangkat tema tentang kisah cinta dan konflik sosial dalam hubungan diskriminasi antara Pribumi dan Eropa pada zaman penjajahan Belanda.
Diawal scene film ini cukup menarik hati saya dengan gambaran zaman kolonial Belanda yang terlihat begitu nyata di film ini. Pergolakan antara Pribumi dan Eropa dalam film terlihat persis dengan gambaran saya mengenai kehidupan zaman kolonial yang saya pernah pelajari dari buku-buku sejarah semasa sekolah.
Dari segi peran, tokoh Minke dan Nyai Ontosoroh sebagai kaum Pribumi yang hidup di zaman kolonial membuat saya kagum akan intelektualnya. Seperti yang diketahui bahwa kaum Pribumi dimasa itu cukup terbelakang, apalagi dalam hal intelektual, kedua tokoh tersebut ibarat tonggak utama awal peradaban dari kaum Pribumi.
Namun disayangkan, narasi cerita dalam film terlihat seperti tergesa-gesa. Contohnya seperti kehadiran tokoh pendukung seperti Kommer seorang jurnalis Eropa yang menulis untuk koran Melayu itu terkesan dipaksakan muncul dan tidak memiliki pengaruh kuat dalam cerita. Kemudian yang membuat saya bingung dan bertanya-tanya kemana dan bagaimana kabar tokoh Robert di film itu. Tiba-tiba saja menghilang dan sampai akhir film tidak muncul kembali.
Selebihnya film ini cocok buat kalian yang menyukai seputar sastra dan sejarah. Dan dari info yang saya baca di berita, film ini bakal ada sequelnya dan akan menjadi trilogi film nih. kita tunggu aja kabar selanjutnya yaaa bruh n' sis. ....
Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan.
[Rating Pribadi : 7,7/10]






Komentar
Posting Komentar